Author Topic: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas  (Read 20437 times)

Offline sanhiez

  • Apprentice of Wisdom
  • ***
  • Posts: 1659
  • Cookies: 40
  • sanhiez hides in shadows.
  • Saber X Gilgamesh~ <3
  • Awards 7.500 Kitin Donatur
    • http://twitter.com/yaoiyaoiuke
    • Awards
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #10 on: February 06, 2011, 04:01:15 pm »
kerennnn eyanggg *sujud
~Retired but still Lurking on Forum~

Offline Yuka

  • Follower of Wisdom
  • *****
  • Posts: 835
  • Cookies: 53
  • Yuka has little cookie
  • Awards 1.000 Kitin Donatur 7.500 Kitin Donatur
    • Awards
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #11 on: February 06, 2011, 08:57:15 pm »
kapan aku bilang gitu..
jelas2 mizu bilang mu ikut di thread utop jg..

cih brambut emas.. deskripsi exklusif buat alceus tu =P

eniwei, keren jg dongengnya..
prtama gak punya anak, yg keinget itu dongeng Timun Mas..
tapi liat dr prjalanannya, mirip2 Momotaro ya?

skilas2 mungkin ketebak, tp smoga tebakanku salah
*OOT* waktu itu yg di sms.. -__-"
apa aku yg salah inget ya.. *OOT off*

nice chap :puppyeyes:

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1298
  • Cookies: 56
  • Mizura has little cookie
  • Aku herp, kamu derp. Bersama, mari kita herpderp.
  • Awards 3.000 Kitin Donatur 3089
    • Story of ECO
    • Awards
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #12 on: February 07, 2011, 01:41:46 pm »
@ce fafa
ugh, mungkin.... wkwkwk
iya prolognya puisi... tapi puisi abal2... kwkwkw
yang baju sailor.. sebenernya sih mau bikin anak SMP, tapi kasihan ntar cc Valentia kok jadi anak smp kwkwkw *taboked*
Thanks ya cc :puppyeyes:



@squad
thanks... :D
rencana ada 6 chapter (+prolog+epilog) maunya juga bikin 1 chapter tambahan tapi takut ga sempet @_@



@kk al
iya aku pertama mikir alceus wkkwwkwk
tapi rambutnya dia juga emas... jadi, sabar ya kk al kwkwk
bisa ketebak? itu memasng kelemahan saya. bikin cerita pasti bisa ketebak. huhuhuw T^T



@cc kuro
yang versi valentia, peri jahatnya dikalahin waktu terakhir2... iya, lupa nulisnya tentang itu, huhu @_@
entar kutambahin deh... *duhhh bodohnya aku sampe lupa*



@cc alverina
thanks cc! ^^



@cc yukika
ternyata... malah seneng kubuat begitu.... :shock:
ya sudahlah, hatiku jadi lega. wakakakaka @_@



@icha
hwaa kamu juga kok @_@ @_@ XD



@mel
thanks berat mel! :-*
« Last Edit: February 07, 2011, 01:42:51 pm by Mizura »

Offline Sugarcane

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1258
  • Cookies: 50
  • Sugarcane has little cookie
  • Awards 1.000 Kitin Donatur
    • Freyamour
    • Awards
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #13 on: February 07, 2011, 08:32:05 pm »
aku smp loh wkwk

btw
kereeen.. squadnya misterius banget
nungguin chapter lanjutannya
:puppyeyes:
Genevie GemeinschaftfuhlValentia EternalCanelle GirlsDeadMonsterAmarynth Revelations

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1298
  • Cookies: 56
  • Mizura has little cookie
  • Aku herp, kamu derp. Bersama, mari kita herpderp.
  • Awards 3.000 Kitin Donatur 3089
    • Story of ECO
    • Awards
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #14 on: February 08, 2011, 05:16:13 am »
Chapter 2
Dongeng Yang Lain


A/N
hadu hadu... kemaren sama sekali ga bisa ol... T^T
monggo deh, chapter kedua dari fanfic ini~
enjoy~


@cc sugarcane
walah? smp toh? maap2 >_<
mau kubenerin ato mau ttp sma aja? hahaha =D


Sayapnya mengepak tergesa-gesa di bawah cahaya pucat bulan sabit. Jubahnya yang bersulam bordir dan renda kelas atas itu sedikit tercabik-cabik, tapi ia tak peduli. Rambutnya yang tadinya berwarna pirang indah sekarang acak-acakan, tapi ia tak peduli. Terdengar teriakan-teriakan dari belakangnya, tapi ia tak peduli. Ia masih terus terbang, dan terbang, menuju kebebasan yang selalu didambakannya. Selalu diidamkannya.

Sedikit lagi aku akan sampai di tanah North, pikirnya berulang-ulang dengan yakin. Di sana aku pasti akan diterima. Yah, semoga saja sih, batinnya, pasrah. Ia memiliki beberapa kenalan dari ras Icy, dan itu cukup membuatnya tenang kembali. Setidaknya mereka tidak menggigit. Lagi-lagi, semoga saja.

Sudah belasan hari ia melarikan diri dari kejaran para pengejar yang selalu membuntutinya tanpa jeda. Namun, bahkan robot pun juga memiliki batas. Di awal musim gugur, dia sudah merasakan bahwa pengejarnya itu menyerah dan kembali ke tempat mereka lagi. Ia merasa lega, namun masih waspada. Jangan-jangan itu hanya taktik untuk membuatnya lengah.

Dan pada saat itu pulalah ia mulai mengenali keadaan di sekelilingnya. Seingatnya ia melarikan diri ke arah North, tapi... kenapa semuanya masih berwarna hijau? Dan tampak kekeringan, pula. Tidak, ia yakin benar ia telah keluar dari perbatasan wilayah Morg. Tanaman di sana tampak kecoklatan, tapi masih segar. Dan dengan sentakan tiba-tiba, ia juga menyadari bahwa ia tidak sedang menuju tanah North. Di sana, segala sesuatunya tertutupi salju. Sedangkan disini... bahkan rumput saja seperti berjuang mati-matian untuk mendapatkan air. Jangan-jangan...

Ia berada di wilayah South?!

Dengan pandangan lemah sekali lagi ke sekelilingnya, ia sekarang merasa yakin bahwa apa yang dia pikirkan tadi memang benar. Ia berada di wilayah South.

Buodoh!! Idiot!! Ketololan stadium dua setengah!!

Pantas saja dia sekarang merasa kepanasan. Dia mengeluh, tak memedulikan suara ‘kaing-kaing’ Bawoo dan Crimson Bawoo yang tampak takut-takut mendekatinya. Terduduk di atas rumput yang terasa panas, ia menyesali nasibnya. Kenapa saat dia melarikan diri, alih-alih tiba di North, dia malah terdampar di South? (Setidaknya kalau ia terdampar ke Fareast, itu jauh lebih baik. Disana suhunya lebih rendah daripada South). Kenapa waktu diajari geografi, dia tak pernah mendengarkan orang tuanya? Kenapa waktu dia masih berada di Light Tower, kehidupannya sangat sengsara? Dan kenapa...

Kenapa dia dilahirkan sebagai seorang Dominion Pennant?

Dominion Pennant, makhluk Dominion yang terkutuk. Itulah yang ia pikirkan tentang dirinya. Namun, orangtuanya dan para Dominion Pennant lain berkata sebaliknya. Mereka membanggakan diri berlebihan dengan apa yang mereka sebut ‘Darah Dominion Murni’ dan memperlakukan monster lain seperti sampah. Apalagi manusia. Dan itu sangat bodoh. Beberapa kali ras Emil sendiri pernah datang dan hampir menghabisi mereka, namun sampai saat ini mereka tidak pernah bertobat dari kesombongan dan ketidakpedulian mereka terhadap yang lain. Dia muak. Muak terhadap semua kebusukan yang mereka ajarkan dan wariskan terhadap keturunan mereka (kecuali geografi, tentu saja). Tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk memutuskan melakukan pemberontakan terhadap orang tuanya... dalam bentuk mengecat rambutnya dengan warna pirang emas. Di luar dugaan, hal ini membuat orang tuanya dan segala Dominion Pennant di Light Tower marah besar. Mereka memutuskan untuk mengurungnya dan menjaganya dengan ketat. Dan sekarang, ia telah bebas setelah melewati bulan-bulan penuh perencanaan, penderitaan, dan makian. Dunia luar, ia yakin, lebih baik ketimbang kungkungan dinding Light Tower dan kehadiran orang tuanya.

Tapi sekarang, kemana ia akan pergi? Ia hanya hafal daerah North karena ia pernah mengunjungi daerah itu sesekali saat masih kecil. Sedangkan South... masuk lewat mana, bagaimana geografinya, apa rutenya, semuanya dia tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa ada seorang kenalannya yang tinggal di sini, tapi apa gunanya mengingat hal tersebut kalau ia bahkan tidak tahu di daerah mana ia tinggal? Sungguh bodoh dirinya. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bo—

“Anda tidak apa-apa, Mr Dominion?”

Suara lembut yang halus mengagetkan dirinya. Bukan karena suara lembutnya yang mengagetkannya, namun karena kehadiran orang tersebut tidak disadarinya. Seorang Dominion Pennant diharapkan untuk mengenali aura semua orang yang mendekati dirinya. Meskipun ia baru bisa mengenali sebagian besar aura dari orang-orang yang mendekati dirinya, tetap saja hal tadi membuatnya sedikit terkejut.

“Saya... tak apa-apa,” jawabnya pelan. Ia menoleh kebelakang dan langsung terpana. Berada di belakangnya sambil membawa sebuah payung pink, berdirilah seorang gadis yang sangat... cantik. Bahkan cantik melebihi seorang Harpy yang menjadi gebetannya saat ia masih berada di  Light Tower. Rambutnya berwarna biru indah, tubuhnya ramping, kulitnya putih halus, sayap putihnya bersinar terang. Tercium wangi bunga-bunga yang harum dari tubuhnya. Namun yang paling indah dan menjadi daya tarik utama darinya adalah sepasang bola mata indah yang aneh, satu berwarna hijau jamrud cerah dan satu lagi berwarna merah darah. Perlu beberapa detik bagi si Dominion Pennant sebelum kesadarannya kembali ke dirinya.

“Uhm. Maaf kalau saya mengganggu Anda,” ucap gadis itu lagi sambil memandangnya dengan pandangan meminta maaf sebelum melanjutkan, “Tidak biasanya seorang bangsawan Dominion seperti Anda berada di sini.”

Perkataannya membuat dirinya tertawa. “Aku... bangsawan?” Ia memandangi gadis tersebut dengan sepasang mata emasnya yang berkilau. “Anda pasti salah melihat. Saya hanyalah seorang Dominion biasa, yang... memiliki beban masa lalu.” Ia terdengar sangat tenang, tapi sebenarnya hatinya berdegup kencang. Ia tak pernah bertemu dengan seorang Titania sebelumnya. Juga, kenyataan bahwa Titania pertama yang ditemuinya itu berwajah sangat cantik malah menambah kegugupannya. Ia tak bisa menghilangkan pemikiran bahwa ia harus bisa bersikap baik agar ia disukai oleh gadis ini.

“Tolong, panggil saya Jose. Josephine Love nama lengkap saya, tapi saya lebih suka nama yang ringkas,” ia tersenyum. Senyum yang membuat sang Dominion Pennant lagi-lagi merasa terpana. “Dan Anda...?”

Sebelum ia bisa sempat menjawab, terdengar gemuruh di kejauhan. Gadis yang bernama Josephine itu terkesiap dan berkata, “Astaga. Badai angin. Akhir-akhir ini badai angin sering melanda South... Sebaiknya kita mencari perlindungan, Mr Dominion. Kalau Anda berkenan, kita akan menuju Shelter di dekat sini.”

Dominion Pennant itu cepat-cepat menggeleng. “Tidak usah. Saya bisa mencari perlindungan sendiri, kok.” Sebenarnya ia menolak pertolongan Josephine bukan karena apa-apa. Hanya saja ia merasa tidak yakin bahwa seorang monster seperti dirinya akan diterima di tempat yang penuh orang, seperti Shelter, yang pasti akan penuh dengan manusia saat badai angin melanda.

Josephine mengangguk, sambil berpikir. Entah kenapa, sepertinya Josephine mengerti masalah sang Dominion Pennant. “Kalau begitu, kita akan menuju rumah. Rumah saya.”

Dominion itu terlonjak, saking kagetnya. “Hah?! Rumah?!”

“Jangan khawatir. Di rumah tidak ada siapa-siapa...”

Namun, justru itulah permasalahannya.

“Anda.. anda yakin seseorang seperti diriku ini masuk ke rumah yang... tidak ada siapa-siapanya?” tanya Dominion itu kawatir.

Lagi-lagi Josephine tersenyum. “Saya yakin... Anda bisa dipercaya.”

Dan dengan perkataan tersebut, ia menggandeng tangan sang Dominion yang masih kebingungan, dan menariknya menuju kota Iron.

***

“Wow. Mendetail sekali,” komentar Valentia sambil manggut-manggut.

“Tentu saja. Aku kan keren?” Squad membusungkan dada.

Sebuah bantal segera terlempar ke arah muka Squad. Namun Squad menangkapnya tepat waktu, rupanya tidak ingin membiarkan sebuah bantal merusak wajahnya.

Valentia menjulurkan lidah, kemudian berujar, “Ayo teruskan. Kamu ternyata pandai bercerita.” Gadis itu memandangi Squad dengan pandangan kekanak-kanakan, rupanya sangat senang diceritai oleh Squad. Squad sendiri hanya tersenyum.

Kamu tidak tahu apa-apa, Valentia...

***

“Ini kamar saya,” kata Josephine cerah, sama seperti kamarnya yang tampak cerah. Sepertinya gadis itu menyukai warna pink, karena dimana-mana hanya terdapat warna pink. Tempat tidur pink. Cat kamar pink. Yah, intinya segalanya pink.

“Sangat cewek sekali. Dan rapi,” komentar sang Dominion sebelum ia bisa mencegah dirinya berkomentar.

“Betulkah?” tanyanya gembira, sambil menuju tempat tidurnya dan duduk di atasnya. Di luar, terdengar suara angin yang menghantam seluruh daerah South dengan ganas selama satu jam terakhir di sore ini. Dan selama satu jam itu pula Josephine mengajaknya berkeliling rumahnya, yang meskipun kecil, tampak sangat nyaman. Dominion itu sangat bersyukur bisa berlindung dari badai angin yang menyeramkan itu, meskipun ia harus datang secara sembunyi-sembunyi ke rumah ini, dibantu oleh Jose.

“Tentu saja,” jawab Dominion itu. Kemudian Dominion itu tiba-tiba teringat sesuatu yang ingin ditanyakannya tadi. “Kenapa Anda tahu bahwa saya ini bisa dipercaya?”

Josephine berpikir sejenak, menimbang-nimbang jawabannya. “Dari niatan Anda,” jawabnya jujur. “Hanya saja, kata almarhum ayah saya, seorang Titania memiliki kelebihan khusus untuk merasakan niat dan kata hati seseorang. Saya masih belum begitu bisa melakukan yang terakhir,” Josephine menggeleng, “tapi saya bisa merasakan bahwa Anda tidak memiliki niat jahat.”

***

“Jadi, itu sebabnya kenapa si nenek Yukika cerewet itu bisa tahu apa yang kupikirkan,” celetuk Valentia tanpa bisa mencegah dirinya sendiri.

Squad mengangguk. “Yah, setidaknya memang begitu menurut cerita ini,” ia cepat-cepat menambahkan, agar kedengarannya lebih meyakinkan.

“Ooh....”

***

“Begitu..” Dominion itu manggut-manggut, akhirnya ia mengerti.

“Dan bisa kurasakan bahwa Anda juga lapar,” Josephine tertawa.

“Eh, benar juga,” ujar Dominion itu, menyadarinya. “Kurasa nanti aku akan keluar...”

“Tidak perlu. Saya tadi memasak cumi-cumi untuk makan malam. Anda mau?” tanya Josephine, masih dengan senyumnya yang menawan. “Kesukaanku, kalau Anda mau tahu,” tambahnya, seraya memandanginya dengan penuh arti.

“Tidak usah repot-repot,” Dominion itu menolak dengan halus. “Saya akan pergi keluar setelah badai ini reda.”

“Begitu, ya...” Josephine mengerti, dan kemudian menanyakan hal yang tadi belum dijawab oleh Dominion. “Anda belum menjawab pertanyaan saya tadi. Siapa nama Anda...?”

Josephine memandanginya dengan ingin tahu. Meskipun Dominion itu tampak tersenyum, namun dalam hatinya ia merasa galau. Nama sebenarnya adalah Myrrfigald. Tapi dia tidak yakin bahwa nama itu enak didengar. Lagipula... ia ingin membuang nama peberian orang tuanya itu. Karena itu, ia harus memikirkan nama baru. Tapi... apa?

Apa kira-kira nama yang bagus, ya?

Tunggu, dia bilang dia suka cumi-cumi...

Cumi... Squid...

“Squi—Squiad.”

“M-maaf? Tidak kedengaran.”

“Squad.”

***

“Val, berhenti tertawa!!” seru Squad kesal.

“Masa namanya dari cumi sih?! Hahahaha!! Pemikiran yang bodoh!! Dan apa-apaan pula kamu menggunakan namamu sendiri?! Huahahaha!!” Valentia berusaha berkata-kata di sela-sela tawanya.

“Well, daripada pakai kata-kata ‘Sang Ksatria’, lebih baik pakai nama saja. Dan nama yang bisa kupikirkan ya cuma namaku,” Squad menjelaskan masih dengan perasaan kesal, namun senyum yang muncul di bibirnya mengkhianati dirinya. “Dan sejujurnya, aku juga berpikir bahwa itu adalah pemikiran yang bodoh,” tambahnya, membuat keduanya tenggelam dalam tawa.

Setelah beberapa lama, perut Squad terasa sakit karena terlalu banyak tertawa. “Oke oke, cukup. Kamu mau mendengar lagi apa tidak? Berhenti tertawa!”

“Hahahahaha.... hemph... baiklah... hhahaha—hempphh...”

***

“Squad? Nama yang aneh. Tapi bagus, menurutku,” ucap Jose. Squad tersenyum lega, dan kemudian melanjutkan percakapan dengan Josephine sampai lupa waktu. Berbagai pertanyaan diajukan, jawaban diberikan, tawa menghiasi mereka berdua. Tanpa sadar, sore berganti malam...

~~~

“Astaga, malam sudah tiba dengan cepat sekali,” Josephine tiba-tiba melihat ke luar jendela dan mendesah. “Padahal kita sedang asyik bercakap-cakap. Sebentar lagi ibuku pulang...”

“Aku harus pergi,” ujar Squad, meminta diri. “Hari ini sangat menyenangkan. Tapi aku harus mencari makanan... lagipula, badai sudah berlalu dari tadi.”

“Yakin tidak mau makan cumi? Enak lho,” Josephine menawarkan, namun Squad menggeleng.

“Sungguh, aku akan mencoba masakanmu di lain waktu, namun aku harus pergi sekarang. Selamat malam, Jose,” Squad mengangguk kepada Josephine dan menuju ke arah pintu.

Josephine mengangguk juga, dan berdiri dari tempat tidurnya. “Selamat malam...” ucapnya, entah kenapa ia merasa sayang bahwa Squad  akan pergi.

“Oh, satu lagi...”

“Ada apa?”

Squad berbalik, menatap matanya dengan malu-malu. “Kalau... erm... bolehkah aku datang ke sini lagi? Kalau kamu mengijinkan, tentu,” tambahnya cepat-cepat.

Josephine tertawa. “Tentu saja! Kamu sangat ramah dan baik, Squad. Mana mungkin aku menolak teman sepertimu?”

Wajah sang Dominion itu berseri-seri. Belum pernah ia merasa segembira ini sejak masa akil balignya. “Terima.. kasih, Jose...”

Dan dengan satu kedipan mata Josephine, Dominion itu menghilang.

Titania itu memandangi tempat dimana Dominion itu barusan berada. “Semoga kita bertemu kembali, Squad...” Raut mukanya berubah sedih. “Aku... kesepian...”

~~~

Squad memandangi rembulan yang membelai wajahnya dengan cahaya pucat. Sebenarnya, dia bukannya langsung berteleport keluar dari rumahnya (yah, sampai kapanpun seorang Dominion Pennant tidak akan pernah bisa berteleport). Ia memutuskan untuk tetap tinggal sambil membuat dirinya menghilang. Setelah Josephine keluar dari kamarnya, barulah ia menyelinap keluar dari rumahnya dengan diam-diam.

Dari perbincangan yang barusan ia lakukan dengan Josephine, ia berhasil mengetahui banyak hal tentang diri gadis cantik itu. Mulai dari kelahirannya yang aneh (ibunya mengandung dirinya setelah ayah mereka meninggal, yang membuat gadis itu dan ibunya dikucilkan dari masyarakat sekitar), kesedihannya karena tak pernah ada yang mau berbicara dengannya, pekerjaan ibunya yang sangat misterius, kemampuannya yang menakjubkan dalam mengendalikan elemen, dan lain-lain. Squad sendiri sampai terkejut saat menyadari betapa banyak yang diceritakan Josephine tentang dirinya sendiri kepada Dominion itu. Namun, begitu Squad berniat untuk menyuarakan isi hatinya tersebut, lagi-lagi Josephine menghentikannya dengan senyum menawan.

’Karena aku percaya padamu.’

Tak bisa dipungkiri bahwa Squad masih merasa aneh dengan perkataan tersebut, bahkan sampai sekarang. Tak biasanya seorang monster seperti dirinya, apalagi sejenis Dominion Pennant, bisa meraih kepercayaan seorang gadis cantik jelita hanya dalam sekali pertemuan. Hal itu sangat aneh. Tapi, Josephine sendiri bilang bahwa ia bisa merasakan niat seseorang hanya dengan memandang mata mereka. Mungkin, dia memang benar. Squad menggeleng, ternyata masih banyak hal di dunia ini yang belum diketahuinya.

Gadis yang baik dan cantik sekali, batinnya sambil merenung. Yah, besok aku akan menemuinya lagi. Sekarang masalahnya adalah... aku lapar sekali... Squad memegangi perutnya dengan gestur memelas dan memandang sekeliling. Kota Iron di malam hari tampak begitu sepi dan misterius. Lampu-lampu jalanan berpendar lemah menerangi sudut-sudut kota. Sesekali satu-dua orang berjalan cepat-cepat, ingin mencapai tujuan dengan selamat sebelum badai angin kembali menerjang kota mereka. Squad mendesah. Berarti, tidak ada jalan lain. Satu-satunya cara untuk mencari makanan hanya ada di Southern Dungeon.

Dan inilah salah satu aspek yang juga dibenci Squad dalam menjadi seorang Dominion Pennant. Untuk bertahan hidup, segala makhluk harus memakan makanan. Dan makanan seorang Dominion Pennant adalah... energi kehidupan.

Squad benci sekali harus memakan energi kehidupan dari seseorang. Menurutnya, hidup hanya berarti jika ia bisa berguna untuk orang lain (dalam hal positif, tentunya). Jika ia harus memakan energi kehidupan dari seseorang, maka hidup orang lainlah yang berguna bagi dirinya. Dan itu sangat pengecut. Namun tak ada pilihan lain. Ia memang bisa memakan makanan manusia biasa, namun makanan itu saja tak cukup untuk membuatnya hidup. Hanya dari energi kehidupan ia bisa bertahan...

Sekali waktu, ia juga pernah ingin mengakhiri semuanya. Menghilangkan dirinya sendiri. Namun dengan berbagai pertimbangan, ia tak mau melakukannya. Garis hidupnya masih terlalu panjang, sayang jika tidak dimanfaatkan untuk kebebasan. Egois memang, tapi setidaknya hal itu membuatnya terus hidup, dan akhirnya sekarang ia meraih kebebasan yang selalu diimpikannya.

Ia kembali menyembunyikan dirinya, menjadi tak terlihat. Melayang pelan menuju seorang Transceiver, di dalam hati Squad masih saja terjadi perang. Apakah ia masih akan memakan energi kehidupan? Atau tidak, mengingat ia sudah menggenggam kebebasan dalam tangannya?

Ia menyingkirkan pemikirannya itu dari dalam hatinya. Mungkin, lain kali dia akan mencoba tidak makan. Sebentuk impian kedua muncul di kepala Squad: tidak memakan energi kehidupan. Mungkin akan berhasil, seperti dirinya yang berhasil meraih impian pertama. Tapi sekarang, ia sedang dilanda kelaparan. South Dungeon menjadi tujuan selanjutnya. Dan sekarang ia hanya tinggal bertanya pada seorang Transceiver.

Kata Josephine, untuk bisa mengetahui letak-letak tempat di kota ini, orang-orang yang buta peta seperti dirinya bisa bertanya pada salah satu Transceiver. Ia mendekati seseorang yang persis sama seperti deskripsi Jose.

“Psst... Dimana Southern Dungeon?” tanyanya pelan ke arah telinga gadis tersebut.

“Oh, Southern Dungeon ada di sana...” Gadis itu menjawab dengan riang, berbalik untuk menunjuk ke arah timur, namun tangannya terhenti di udara. Matanya melebar ketakutan ketika ia mendapati bahwa tidak ada seorang pun yang terlihat di belakangnya. Dengan ngeri ia mulai berteriak, “Ha—ha—ha—hantuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!” Tanpa basa-basi lagi, ia langsung berlari tunggang langgang.

“Terima kasih,” jawab Squad sambil nyengir, dan menuju ke tempat yang ditunjuk gadis tadi. Semoga, dia hanya perlu memakan sedikit...

~~~

Dia memakan banyak.

Squad membenci dirinya. Padahal ia mengira dia memiliki kendali diri yang kuat, tetapi tidak. Ia sama sekali tak bisa menghentikan dirinya sendiri, seharusnya Squad tahu itu. Berhari-hari ia tidak makan dan akhirnya ia menjadi seperti ini. Sudah dua Spell Caster dan satu Devastator menghilang karena ulah dirinya. Ia tak tahu apakah ia bisa menjalani hidup seperti ini lebih lama lagi...

Dengan kepakan sayap yang gontai, dia melayang perlahan menuju pintu keluar. Sekarang, ia harus mencari tempat tinggal sementara sebelum bersiap-siap untuk berangkat ke daerah North. Squad sama sekali tak menyadari ada seseorang yang memanggil-manggilnya  sedari tadi.

Mendadak, kepalanya dihantam dengan keras oleh sesuatu yang aneh seperti payung, membuatnya oleng dan terjatuh.

“Hey, Dominion Pennant tuli!! Aku memanggilmu dari tadi!!” seru seseorang marah.

“H-hah?!” Squad hanya bisa mengusap-usap kepalanya dengan bodoh dan berusaha untuk berdiri.

“Sudah kubilang, Myrr, aku memanggilmu dari tadi!! Memangnya selain tuli, kamu juga sudah jadi agak bodoh, ya?” sindir orang itu, yang tak dapat dilihat Squad secara jelas. Tunggu, kenapa dia tahu nama aslinya? Jangan-jangan, nada bicara ini... Suara cempreng ini... Sindiran ini...

“Kamu...” Squad berusaha memfokuskan pandangannya kembali. “Eh, kamu itu siapa ya?” tanyanya lagi, kelihatannya belum berhasil menggali ingatannya tentang orang ini.

“Bah! Sudah tuli, tolol, buta pula!” Orang itu memaki kembali, kali ini sambil menggeleng-geleng. Sepertinya dia bertubuh kecil. Dan melayang. Dan berwarna kuning. Dan membawa payung...

Squad tersentak.

Payung.

Dan kuning.

“Wendy?!”


thanks for reading this chapter... :love:
pertanyaan mengenai wendy akan terjawab pada chapter berikutnya :nod:
kritik saran cercaan makian pujian pasti diterima XD
« Last Edit: February 21, 2011, 02:56:08 pm by Mizura »

Offline sanhiez

  • Apprentice of Wisdom
  • ***
  • Posts: 1659
  • Cookies: 40
  • sanhiez hides in shadows.
  • Saber X Gilgamesh~ <3
  • Awards 7.500 Kitin Donatur
    • http://twitter.com/yaoiyaoiuke
    • Awards
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #15 on: February 08, 2011, 09:00:12 am »
Woooo update subuh *udh baca td jam stengah 6 an tp lupa komen*


Keren! Gyaaa!! Itu knp wendys bsa di south DG @_@ wkwkkw
~Retired but still Lurking on Forum~

Offline KuroYuki

  • Elder
  • Words of Speech
  • *
  • Posts: 2916
  • Cookies: 56
  • KuroYuki has little cookie
  • lagi bias tatsun
  • Awards 75.000 Kitin Donatur
    • Awards
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #16 on: February 08, 2011, 10:38:55 am »
Quote
squad => squid
Top banget yang ini. Dan saya demen sama bagian wendy ngebully squad. Galak euy.
Dimana mana ada aja humor nyelip XD

waiting until senpai do this to me

then I'll die with no regrets

Offline squad

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 280
  • Cookies: 44
  • squad has little cookie
  • Darkness's Last survivor
    • Awards
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #17 on: February 08, 2011, 02:05:58 pm »
Engh,
squad dominion? Wkwk
keren juga :puppyeyes:

A noble Assasin From Gospel
squad, A noble Blademaster from Eternal
Josephine, *not* the most brave enchanter from Utopia
MomotarozZz, Just a regular BM from Hunter x Hunter

Offline alverina

  • Follower of Speech
  • ***
  • Posts: 209
  • Cookies: 46
  • alverina has little cookie
  • Ng?
  • Awards 3.000 Kitin Donatur
    • Awards
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #18 on: February 08, 2011, 02:50:50 pm »
uoooo... lanjutkannn!!  :love2:
You think that same trick will work on me? Before you can finish weaving your best spell, I've dismantled every essence you poured into it!

Offline Mizura

  • Apprentice of Songs
  • **
  • Posts: 1298
  • Cookies: 56
  • Mizura has little cookie
  • Aku herp, kamu derp. Bersama, mari kita herpderp.
  • Awards 3.000 Kitin Donatur 3089
    • Story of ECO
    • Awards
Re: [ECO Fanfic] Kisah Putri Josephine dan Ksatria Berambut Emas
« Reply #19 on: February 08, 2011, 03:14:34 pm »
semua yang diceritakan itu pasti ada alasannya XD


@icha
itu ada alasannya sendiri kok XD

@yuki
wendy emang galak, euy. wkwkwk
entah kenapa yang squid => squad itu udah kepikiran dari dulu. maap ya kk squad >_< (dalem hati: XD)

@kk squad
itu nanti ada ceritanya A__A

@alverina
uwooo makasih!! :love3: